Pandak, Balong — Dakwah tidak selalu harus disampaikan melalui kata-kata. Ia dapat hadir melalui kepedulian, pelayanan, senyum, tangan yang membantu, dan kehadiran di tengah masyarakat yang membutuhkan.

Semangat itulah yang diwujudkan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dan Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Kertosari Utara melalui kegiatan Bakti Sosial Kesehatan (Baksoskes) yang dilaksanakan pada Ahad, 20 September 2026, di PRM-PRA Pandak, Kecamatan Balong, Ponorogo.

Kegiatan ini terlaksana atas kerja sama PRM-PRA Kertosari Utara dengan MPKU RSU Muhammadiyah Ponorogo, Klinik Muhammadiyah Balong, serta PCM Balong, dan dikemas dalam rangkaian Kajian Selapanan, pemeriksaan kesehatan, serta pemberian tanda cinta kepada warga.

Sebanyak 275 warga Desa Pandak menjadi sasaran kegiatan Baksoskes. Sejak awal, kegiatan dirancang bukan sekadar sebagai pelayanan kesehatan, tetapi sebagai bentuk silaturahmi dan ikhtiar menghadirkan dakwah yang dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.

Belajar Al-Ma’un, Lalu Mengamalkannya

Semangat kegiatan ini berangkat dari pesan yang sangat kuat dalam QS. Al-Ma’un, khususnya tentang kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan.

Allah SWT berfirman:

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Ma’un: 1–3)

Pesan Al-Ma’un mengajarkan bahwa keberagamaan tidak cukup berhenti pada pengetahuan dan hafalan. Nilai-nilai agama harus menjelma menjadi kepedulian dan amal nyata.

Semangat inilah yang dahulu ditanamkan oleh KH. Ahmad Dahlan kepada para muridnya ketika mengajarkan Surat Al-Ma’un. Al-Ma’un tidak sekadar dibaca dan dihafalkan, tetapi dipahami, direnungkan, dan diwujudkan dalam tindakan nyata untuk membantu sesama.

Ilmu tidak hanya untuk dihafal, tetapi untuk diamalkan.

Spirit tersebut menjadi ruh Baksoskes PRM-PRA Kertara. Apa yang dipelajari dalam agama berusaha diterjemahkan menjadi aksi: hadir di tengah masyarakat, memberikan pelayanan kesehatan, berbagi perhatian, serta menumbuhkan rasa persaudaraan.

Kajian Selapanan Menjadi Awal Kegiatan

Rangkaian kegiatan diawali dengan Kajian Selapanan yang diikuti oleh warga dan unsur persyarikatan. Kajian menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman keagamaan sekaligus membangun kesadaran bahwa kepedulian sosial merupakan bagian penting dari pengamalan ajaran Islam.

Setelah kajian, kegiatan dilanjutkan dengan acara seremonial. Ketua PRM Kertosari Utara, H. Mustadjab, S.Pd., menyampaikan sambutan sekaligus menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga silaturahmi dan menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat.

Kegiatan kemudian berlanjut pada pelayanan utama, yaitu pemeriksaan kesehatan bagi warga.

Sehat untuk Masyarakat, Hadir dengan Kepedulian

Tim kesehatan dari MPKU–RSU Muhammadiyah Ponorogo bersama Klinik Muhammadiyah Balong memberikan pelayanan pemeriksaan kesehatan kepada masyarakat.

Warga mendapatkan kesempatan untuk memeriksakan kondisi kesehatan sekaligus memperoleh edukasi dan konsultasi kesehatan dari tenaga kesehatan yang hadir.

Bagi masyarakat, kehadiran layanan kesehatan tersebut menjadi bentuk kepedulian yang nyata. Sementara bagi para relawan dan tenaga kesehatan, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mengamalkan ilmu dan profesi dalam suasana pengabdian.

Pelayanan kesehatan menjadi lebih dari sekadar pemeriksaan. Di dalamnya ada komunikasi, perhatian, mendengarkan keluhan, memberikan edukasi, serta menghadirkan rasa bahwa masyarakat tidak berjalan sendirian.

275 Warga, 275 Tanda Cinta

Kegiatan Baksoskes menyasar 275 warga Desa Pandak.

Namun, angka 275 bukan sekadar jumlah sasaran. Di balik setiap penerima manfaat ada seorang manusia, sebuah keluarga, dan cerita kehidupan yang layak untuk diperhatikan.

Sebelum meninggalkan lokasi, warga juga mendapatkan Gift “Tanda Cinta” dari PRM-PRA Kertosari Utara.

Gift tersebut menjadi simbol sederhana bahwa kehadiran PRM-PRA Kertara bukan hanya untuk memberikan pelayanan, tetapi juga untuk menyampaikan pesan:

“Kami hadir, kami peduli, dan kami ingin terus bersilaturahmi.”

Barangkali nilainya tidak seberapa, tetapi perhatian yang diberikan dengan ketulusan dapat meninggalkan kesan yang jauh lebih dalam.

Harapan untuk Kerja Sama yang Berkelanjutan

Kegiatan ditutup dengan sambutan dari Lurah Desa Pandak. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan Baksoskes dan berharap kerja sama serta silaturahmi yang telah terbangun dapat terus berlanjut pada kegiatan-kegiatan berikutnya.

Momentum tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemberian tali asih dari Ketua PRM Kertosari Utara kepada Lurah Pandak sebagai bentuk penghargaan dan penguatan hubungan baik antara persyarikatan dengan pemerintah desa.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa dakwah dapat tumbuh ketika berbagai unsur bergerak bersama. Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat dapat saling menguatkan untuk menghadirkan kemanfaatan yang lebih luas.

Dari Al-Ma’un Menjadi Gerakan

Baksoskes di Pandak menjadi pengingat bahwa dakwah bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita sampaikan, tetapi juga tentang seberapa banyak manfaat yang dapat kita hadirkan.

Surat Al-Ma’un mengajarkan kepedulian kepada mereka yang lemah dan membutuhkan. KH. Ahmad Dahlan memberikan teladan bahwa ajaran tersebut harus diterjemahkan menjadi gerakan nyata.

Maka, Baksoskes ini menjadi bagian kecil dari ikhtiar untuk menjaga semangat tersebut.

Membaca Al-Ma’un, memahami pesannya, lalu bergerak mengamalkannya.

Sebab ilmu yang hanya berhenti di kepala belum tentu mengubah kehidupan. Tetapi ilmu yang turun ke hati dan diwujudkan dalam amal akan menjadi cahaya bagi diri sendiri dan manfaat bagi sesama.

Ketika Ilmu Menjadi Amal, Dakwah Menjadi Cahaya

Ada kalanya dakwah tidak membutuhkan mimbar yang tinggi.

Cukup dengan datang kepada mereka yang membutuhkan, memeriksa kesehatannya, mendengarkan keluhannya, menggenggam tangannya, memberikan sedikit perhatian, lalu pulang dengan membawa doa.

Itulah dakwah yang hidup.

Karena ghirah dakwah bukan hanya tentang semangat untuk berbicara tentang Islam, tetapi keberanian untuk menghadirkan Islam dalam bentuk kasih sayang dan kemanfaatan.

“Jangan biarkan ilmu hanya menjadi hafalan di kepala. Jadikan ia amal yang menggerakkan tangan untuk menolong, hati untuk peduli, dan langkah untuk terus mengabdi. Karena ketika Al-Ma’un benar-benar diamalkan, dakwah tidak lagi sekadar terdengar—ia akan dirasakan.”

Dari Kertosari untuk Pandak.
Dari Al-Ma’un menuju amal.
Dari kepedulian menjadi gerakan.
Dan dari gerakan kecil, semoga lahir kebermanfaatan yang terus mengalir.

Fastabiqul khairat.