Ponorogo _ Ada pertemuan yang sekadar mempertemukan orang, tetapi ada pula pertemuan yang mempertemukan gagasan, harapan, dan masa depan gerakan. Bagi Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Kertosari Utara, menghadiri Rapat Pleno Diperluas: Silaturahmi dan Dialog bersama Prof. Dr. H. Din Syamsuddin, MA menjadi sebuah kehormatan sekaligus kesempatan untuk menyerap gagasan besar tentang masa depan ‘Aisyiyah.

Forum tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan kekeluargaan, namun menghadirkan percakapan yang serius mengenai bagaimana ‘Aisyiyah dapat terus memperluas kiprah dan kebermanfaatannya bagi umat, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.

Dipandu Ketua PRA Kertosari Utara

Rangkaian kegiatan dipandu oleh Dra. Purwantiningsih, MA. yang akrab disapa bu Ipung, anggota Majelis Hukum dan HAM (MHH) Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Ponorogo sekaligus Ketua PRA Kertosari Utara.

Acara diawali dengan pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya, Sang Surya, dan Mars ‘Aisyiyah. Setelah pembukaan, peserta mendapatkan sambutan dari Ketua PDA Ponorogo yang pada kesempatan tersebut diwakili oleh Ibu Siti Khoiriyah Jannah.

Suasana semakin hangat ketika memasuki agenda utama, yakni pemaparan dan dialog bersama Prof. Dr. H. Din Syamsuddin, MA.

‘Aisyiyah: Kekuatan Besar yang Harus Terus Dikembangkan

Dalam pemaparannya, Prof. Din mengingatkan kembali besarnya potensi yang dimiliki ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan dalam keluarga besar Muhammadiyah.

Salah satu hal yang disoroti adalah posisi anggota ‘Aisyiyah yang memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari dua rumah gerakan sekaligus, yakni Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

“Ibu-ibu ‘Aisyiyah itu diuntungkan. Bisa punya dua kartu: Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.”

Pernyataan tersebut disampaikan dalam suasana dialog yang cair, namun mengandung pesan penting bahwa ruang pengabdian perempuan Muhammadiyah sangat luas. Lebih jauh, Prof. Din mengingatkan bahwa ‘Aisyiyah merupakan organisasi perempuan dengan kekuatan amal usaha yang luar biasa. Menurutnya, kemampuan ‘Aisyiyah dalam membangun dan mengembangkan universitas serta rumah sakit merupakan capaian yang patut terus dikembangkan dan diperluas.

 

Jangan Berhenti pada Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi

Pesan strategis yang juga mengemuka adalah pentingnya ‘Aisyiyah memperluas bidang garap Amal Usaha ‘Aisyiyah (AUA). Selama ini ‘Aisyiyah telah dikenal luas melalui kiprahnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Namun, perkembangan zaman menghadirkan kebutuhan baru yang menuntut gerakan ‘Aisyiyah untuk terus melakukan inovasi.

“Aisyiyah harus memiliki Amal Usaha yang lebih luas bidang garapnya, tidak hanya pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.”

Pesan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi seluruh jajaran ‘Aisyiyah untuk membaca kebutuhan zaman dan menghadirkan amal usaha yang semakin relevan dengan persoalan masyarakat. Bukan sekadar memperbanyak amal usaha, tetapi memperluas titik-titik kebermanfaatan.

 

RSU ‘Aisyiyah Ponorogo dan Peluang Besar Ke Depan

Dalam dialog tersebut, Prof. Din juga menyoroti keberadaan RSU ‘Aisyiyah Ponorogo. Rumah sakit yang telah menjadi bagian dari kiprah ‘Aisyiyah di bidang kesehatan tersebut dinilai memiliki kompetensi dan peluang untuk terus berkembang. Harapannya, RSU ‘Aisyiyah Ponorogo tidak hanya menjadi institusi pelayanan kesehatan, tetapi juga semakin kuat sebagai ruang dakwah kemanusiaan yang menghadirkan pelayanan profesional sekaligus manfaat nyata bagi umat dan masyarakat.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap Amal Usaha Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah pada hakikatnya bukan sekadar bangunan atau lembaga, melainkan amanah yang harus terus dihidupkan dengan nilai dakwah dan kemanfaatan.

“Kalau Diundang, Saya Siap Datang”

Salah satu momen yang paling mendapat sambutan hangat dalam dialog tersebut adalah ketika Prof. Din menyampaikan harapannya terkait perkembangan Universitas ‘Aisyiyah Ponorogo. Beliau menyampaikan kesediaan untuk hadir apabila PDA Ponorogo kelak mengundangnya dalam momentum peresmian atau peletakan genteng terakhir Universitas ‘Aisyiyah Ponorogo.

“Kalau nanti diundang untuk meresmikan atau peletakan genteng terakhir Universitas ‘Aisyiyah Ponorogo, saya siap datang.”

Pernyataan tersebut langsung disambut tepuk tangan meriah dari para ibu ‘Aisyiyah yang hadir. Tepuk tangan itu terasa lebih dari sekadar respons spontan. Ia seperti menerjemahkan satu kesamaan harapan: agar cita-cita besar Universitas ‘Aisyiyah Ponorogo terus dikawal dan segera diwujudkan. Harapan tersebut tentu menjadi catatan penting bagi PDA Ponorogo untuk ditindaklanjuti.

Pulang Membawa Gagasan

Bagi PRA Kertosari Utara, forum ini menjadi lebih dari sekadar agenda menghadiri undangan. Ada gagasan yang dibawa pulang. Ada semangat yang kembali dinyalakan. Dan ada tanggung jawab untuk menerjemahkan pesan besar itu dalam skala gerakan yang lebih dekat dengan masyarakat. Sebab kekuatan ‘Aisyiyah tidak hanya terletak pada besarnya organisasi, tetapi pada kemampuan setiap struktur untuk bergerak, sekecil apa pun ruangnya, sebesar apa pun manfaat yang dihasilkannya.

Alhamdulillah, pada kegiatan ini Prof. Din Syamsudin juga memberikan apresiasi untuk PRA Kertosari Utara dan PRA Gontor, bahwa melalui istri beliau, Rashda Diana akan menghibahkan alat permainan untuk anak-anak usia dini atau taman belajar. Hal ini disambut dengan syukur dan do’a yang tak terhingga atas karunia Allah. Hal ini semakin memantik ghirah dakwah melalui ‘Aisyiyah.

Dari forum pleno diperluas ini, PRA Kertosari Utara kembali diingatkan bahwa silaturahmi bukan sekadar bertemu, dialog bukan sekadar berbicara, dan organisasi bukan sekadar struktur. Semuanya harus bermuara pada satu kata: kemanfaatan.