
Ponorogo — Upaya merawat jejak perjuangan dan perjalanan organisasi terus dilakukan oleh PCA Ponorogo Kota melalui kegiatan Meeting LBSO yang dilaksanakan pada Senin, 7 September 2026. Kegiatan berlangsung di Kantor PCA Ponorogo Kota, Jl. HOS Cokroaminoto No. 43 Ponorogo, yang berada di kompleks Masjid Darul Hikmah.
Meeting tersebut menjadi bagian dari proses Penulisan Sejarah Perkembangan ‘Aisyiyah Cabang Ponorogo, sebuah ikhtiar untuk mendokumentasikan perjalanan, dinamika, kiprah, serta kontribusi ‘Aisyiyah dari masa ke masa.
Kegiatan ini juga melibatkan unsur pimpinan ranting. PRA Kertosari Utara turut berkontribusi dengan menghadirkan Peni Nurhidjajati, M.Pd. dan Ns. Wiwiek Retti Andriani, M.Kep. sebagai perwakilan dalam proses penggalian dan penulisan sejarah perkembangan ‘Aisyiyah Cabang Ponorogo.
Diawali Ngaji Bersama dan Mars ‘Aisyiyah
Acara diawali dengan pembukaan oleh MC, Bu Susi. Sebelum memasuki agenda utama, peserta diajak mengawali kegiatan dengan ngaji bersama surat-surat pendek. Nuansa religius tersebut menjadi pembuka yang meneguhkan bahwa aktivitas organisasi ‘Aisyiyah senantiasa berangkat dari nilai-nilai keislaman.
Semangat keaisyiyahan kemudian semakin terasa saat seluruh peserta menyanyikan Mars ‘Aisyiyah yang dipandu oleh Bu Sulis.
Mars ‘Aisyiyah menjadi simbol semangat perjuangan dan pengabdian kader dalam menjalankan dakwah serta berkontribusi bagi masyarakat. Kebersamaan dalam menyanyikannya juga menjadi pengingat bahwa perjalanan panjang ‘Aisyiyah dibangun melalui kerja kolektif lintas generasi.
Penguatan Penulisan Sejarah ‘Aisyiyah
Agenda dilanjutkan dengan sambutan dari sejumlah unsur yang terlibat dalam kegiatan.
Ketua LBSO PCA Ponorogo Kota, Bu Fien Wardani, M.Si., menyampaikan sambutan sekaligus memberikan penguatan terhadap proses penulisan sejarah. Dokumentasi sejarah dipandang penting agar berbagai perjalanan dan perjuangan kader ‘Aisyiyah tidak berhenti sebagai ingatan personal, tetapi dapat diwariskan sebagai pengetahuan organisasi.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh perwakilan Tim Penulis yang memberikan gambaran mengenai proses penulisan sejarah serta pentingnya menghimpun data dari berbagai tingkatan organisasi.
Selanjutnya, Ketua PCA Ponorogo Kota, Hj. Alfiyah, S.Pd., turut memberikan sambutan. Dukungan pimpinan cabang menjadi bagian penting dalam mendorong keterlibatan ranting-ranting untuk memberikan data, informasi, dokumentasi, maupun kesaksian sejarah yang diperlukan.
Sementara itu, Korma, Bu Iskak, juga memberikan sambutan dan penguatan dalam kegiatan tersebut.
PRA Kertosari Utara Turut Ambil Bagian
Keterlibatan PRA Kertosari Utara dalam kegiatan ini menjadi bagian dari kontribusi ranting dalam merekam perjalanan ‘Aisyiyah di Ponorogo.
Melalui Peni Nurhidjajati, M.Pd. dan Ns. Wiwiek Retti Andriani, M.Kep., PRA Kertosari Utara turut memberikan kontribusi dalam proses pengumpulan informasi dan penulisan sejarah. Keberadaan ranting sebagai ujung tombak gerakan ‘Aisyiyah memiliki peran penting dalam menghadirkan gambaran perjalanan organisasi secara lebih utuh.
Setiap ranting tentu memiliki cerita tersendiri—tentang tokoh yang pernah berjuang, kegiatan yang pernah dilaksanakan, tantangan yang dihadapi, serta berbagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Keseluruhan cerita tersebut merupakan bagian dari mozaik besar sejarah ‘Aisyiyah.
Sejarah Bukan Sekadar Catatan Masa Lalu
Penulisan sejarah perkembangan ‘Aisyiyah Cabang Ponorogo bukan hanya tentang mencatat kapan sebuah kegiatan dilaksanakan atau siapa yang pernah menjadi pimpinan. Lebih dari itu, sejarah merupakan rekaman nilai perjuangan, keteladanan, pengorbanan, dan semangat dakwah yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dokumentasi tersebut diharapkan menjadi sumber pembelajaran bagi kader saat ini sekaligus menjadi pijakan bagi generasi ‘Aisyiyah di masa mendatang.
Dengan merawat sejarah, ‘Aisyiyah sedang menjaga identitas gerakannya. Dengan mengenang perjuangan para pendahulu, kader hari ini dapat belajar untuk meneruskan nilai-nilai kebaikan dan memperluas kemanfaatan bagi umat, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.
Menulis sejarah berarti merawat ingatan perjuangan. Merawat ingatan berarti menjaga semangat gerakan agar tetap hidup dan terus tumbuh lintas generasi.







